Lembata

Kamis, 10 Desember 2020 - 07:38 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur. (Foto: Ben Kia Assan)

Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur. (Foto: Ben Kia Assan)

Masa TDB Ile Lewotolok Diperpanjang

Lembata, Floreseditorial.com – Pemerintah Kabupaten Lembata telah menetapkan masa Tanggap Darurat Bencana (TDB) Erupsi Gunung Ile Lewotolok selama 12 hari sejak 29 November – 12 Desember 2020. Namun berdasarkan koordinasi dengan Petugas Pengamatan Gunung Ile Lewotolok, Bupati Lembata memastikan masa TDB akan diperpanjang.

“Kita lihat sendiri ada debu naik, asapnya naik, sehingga masih dilarang untuk aktivitas di radius empat kilometer. Jadi, masa TDB tetap diperpanjang,” ungkap Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, kepada Wartawan, Rabu (9/12/2020) di Posko Utama Eks Kantor Bupati Lembata.

Bupati Lembata bersama Forkopimda sempat bertandang ke Pos Pemantauan Gunung Ile Lewotolok untuk melihat langsung aktivitas vulkanik Ile Lewotolok. Berkaitan dengan potensi perpanjangan masa TDB, Bupati Lembata menginstruksikan percepatan distribusi logistic ke rumah-rumah warga.

Selain itu, untuk mengamankan aktivitas warga yang masih keluar-masuk ke zona merah prioritas atau Kawasan Rawan Bencana (KRB) II dan III, Bupati Lembata juga menginstruksikan untuk mendirikan pos keamanan di Ile Ape Timur dan Ile Ape. Satu posko didirikan di Desa Watodiri dan di Desa Waowala. Keberadaan pos keamaan juga dimaksudkan untuk menjaga keamanan rumah-rumah warga yang ditinggal pengungsi.

Sementara itu, menanggapi rencana perpanjangan masa TDB, para relawan mulai menyiapkan sejumlah skema penanganan, termasuk skema pemulihan psikologis dan pemulihan ekonomi.

Pengarah Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lembata, Cor Sakeng, menjelaskan, pemulihan psikologis dan pemulihan ekonomi sudah harus ditingkatkan, berkaitan diperpanjangnya masa TDB.

“Sudah sejak awal masa darurat, para pengungsi terbebani dengan risiko kehilangan ekonomi. Untuk Ile Ape dan Ile Ape Timur, dua hal yang pasti hilang adalah ternak. Selain itu, ini masa tanam. Jadi pasti mereka akan kehilangan waktu untuk kebutuhan pangan. Dua hal ini harus dipertimbangkan untuk mulai diterapkan bersama para pengungsi,” papar Cor Sakeng.

Sementara itu, FPRB Lembata mulai menyiapkan pendampingan bagi Ibu-ibu untuk aktivitas dasar sebelum kegiatan menenun. Para Ibu yang suka menenun akan didistribusikan sejumlah material tenunan seperti benang untuk digulung menjadi bulatan gulungan benang, yang nantinya akan dijadikan bahan untuk menenun. Kain tenun motif Ile Ape adalah salah satu kain yang banyak dicari pembeli.

“Kami sudah komunikasi dengan Ibu-ibu yang mengungsi. Mereka ingin punya aktivitas. Dan banyak yang ingin buat gulungan benang supaya nanti bisa dipakai menenun. Jadi, kita lagi cari dukungan untuk itu,” ujar Yohanes, salah satu relawan FPRB Lembata, kepada floreseditorial.com, Kamis (10/12/2020).

Penelurusan Tim Dinas Peternakan Kabupaten Lembata menunjukkan, hingga 8 Desember 2020, kasus kematian ternak sudah mencapai 133 kasus. Selain itu, musim hujan yang mulai bersamaan dengan pengungsian, menyulitkan para pengungsi untuk menanam sejumlah benih tanaman sumber pangan yang sering mereka budidayakan seperti jagung, ubi dan kacang-kacangan. (san)

Artikel ini telah dibaca 264 kali

Baca Lainnya
x